Posts tagged ‘macet’

Feeder busway


Dari berbagai area perumahan di pinggiran kota Jakarta meluncur bus-bus ber-AC yang mengantar para penumpangnya ke terminal-terminal bus Transjakarta yang terdekat. Bus-bus yang disebut sebagai Feeder Busway itu menawarkan kenyamanan lebih bagi para penggunanya. Tentu dengan biaya yang lebih mahal daripada angkutan umum lainnya. Namun nampaknya kenyamanan saja tidak mampu membayar waktu yang terbuang karena kemacetan jalan di antara rumah dan terminal busway. Mungkin perlu dipikirkan solusinya supaya manfaat efisiensi busway juga dirasakan oleh pengguna bus feeder.

Iklan

Desember 10, 2010 at 6:57 am Tinggalkan komentar

Subway


Cerita tentang subway atau underground, mungkin menjadi salah satu alternatif moda transportasi umum. Memang tidak juga mengatasi kemacetan, karena hasrat masyarakat untuk memiliki dan mengendarai kendaraan pribadi tetap tinggi. Namun sebagai pilihan berkendara, subway mampu memberikan berbagai keuntungan bagi penumpangnya.

Di Singapura disebut MRT, di Beijing dan di New York disebut Subway, di London disebut Underground, adalah sebuah sistem perkeretaapian yang menggunakan listrik sebagai penggeraknya, dan merayap di dalam lorong atau terowongan bawah tanah mengantar penumpang dari satu stasiun ke stasiun yang lain. Kelajuan rata-rata kereta yang cukup tinggi dan bebasnya dari kemacetan membuat waktu tempuh jauh lebih cepat daripada naik kendaraan di atas permukaan tanah.

Setiap calon penumpang harus membeli tiket untuk dapat menaikinya. Dengan tiket itu membuka pintu masuk dan pintu keluar. Penumpang membayar tiket sesuai dengan jarak tujuan dari stasiun pemberangkatan. Semakin jauh jarak tentu semakin mahal harga tiketnya. Penumpang residen juga dapat membeli tiket elektronik berlangganan yang menawarkan kemudahan-kemudahan. Tiket dapat diisi ulang, memberi diskon perjalanan berkereta, tidak tertelan ketika membuka pintu keluar, sebagai kartu diskon ke tempat wisata, bahkan juga dapat digunakan untuk membayar kendaraan umum lainnya.

Desember 4, 2010 at 7:58 am Tinggalkan komentar

semua jadi macet :p


ternyata tidak ada perubahan yang signifikan selama 3 bulan di jalur busway (baca posting 3 bulan lalu di sini). semua koridor kecuali koridor I, bebas dari lancar alias macet selalu.

menjadi polantas atau dishub yang ditugaskan di jalanan tentu sangat pusing dengan kelakuan pengguna jalan yang menyerobot jalur busway. terpaksalah mereka mengatur supaya jalanan tetap lancar dengan mengorbankan penumpang bus transjakarta. bayangkan saja mereka harus berkutat dengan becek dan hujan kadang-kadang panas terik, sementara para pemakai kendaraan pribadi asyik menggerutu dalam belaian AC tanpa perlu kepanasan atau kehujanan.

yang perlu jadi perhatian adalah kemana moral para pengendara mobil pribadi yang menyerobot jalur busway? pengennya sih gak mau macet dengan masuk jalur busway. tetapi ulah mereka malah membuat macet jalur busway. mengapa jalur busway bisa lebih macet daripada jalur biasa? karena jalur busway hanya menyediakan satu lajur, sedangkan jalur biasa lebih dari dua lajur. selain itu jalur busway dibatasi oleh separator sehingga menyulitkan pengguna melakukan manuver salip menyalip yang sangat mudah dilakukan di jalur biasa.

apakah para penyerobot jalur busway itu tidak menyadari bahwa mereka telah bersalah berlipat-lipat? pertama, menyerobot jalur busway adalah pelanggaran karena ada tanda verboden dengan tulisan “kecuali busway”. kedua, menyerobot membuat macet jalur busway sehingga bus transjakarta tidak bisa mengantar penumpangnya secara cepat sesuai harapan mereka. ketiga, menyerobot adalah mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum dan ini merupakan kesalahan. keempat, para penumpang busway menggerutu dan menyumpahserapahi ulah para penyerobot, membuat orang kesal adalah sebuah kesalahan. kelima, para penyerobot berpikir akan lancar tetapi malah membuat macet, ini jelas kesalahan strategi :p.

siapa lagi yang mau menambahi daftar kesalahan?

Februari 15, 2008 at 10:33 am Tinggalkan komentar

"susah diterka"


“susah diterka”: tulisan yang ditempel di kaca jendela belakang kopaja 602 jurusan ragunan-tanah abang itu terbaca olehku yang sedang menunggu bus transjakarta di halte busway departemen pertanian. pagi yang mengacaukan bagiku, karena bangun kesiangan, karena macet di jalan kahfi dan cilandak kko, ditambah menunggu di halte yang sesak oleh calon penumpang yang sama-sama kesiangan.

kopaja 602 itu adalah kopaja kedua yang melintas sejak aku mulai berdiri di halte pagi ini. alhamdulillah, bus yang kunantikan datang, dan kosong (atau sengaja dikosongkan untuk menjemput penumpang). segera saja calon penumpang berebutan masuk dan dorong mendorong untuk mendapat bangku, tak pedulikan lagi tanda himbauan yang ditempel: utamakan wanita hamil, orangtua, orang cacat.

pilihanku naik busway koridor enam ini adalah waktu tempuh yang cepat dibandingkan jika aku menumpang kopaja 602 atau kopaja p20 untuk mencapai kantorku di bilangan kuningan-gatsu. tetapi kondisi di jalanan memang susah diterka: seperti tulisan yang ditempel di jendela belakang kopaja 602 yang kubaca tadi. jika polisi benar-benar menjalankan tugasnya, tak satupun kendaraan umum maupun pribadi yang boleh melalui jalur busway, dan hanya 20 menit saja aku berada di dalam bus transjakarta yang sesak itu. namun ketika polisi sudah kewalahan menghadapi kemacetan, sebagaimana pak gubernur dki yang baru pusing dengan kemacetan di jakarta: mereka hanya berpayah-payah mengatur kendaraan yang berbalik arah tanpa sempat mengalihkan arus yang hendak masuk ke jalur busway. kalau sudah begini butuh 3 hingga 5 kali 20 menit supaya aku dapat turun di halte busway kuningan timur.

dalam gerutu yang meradang, melihat mobil-mobil berpenumpang kurang dari 2 orang menyerobot sehingga membuat jalur busway ikut merasakan kemacetan (padahal bukan itu tujuan diadakannya busway), terbaca lagi olehku tulisan “susah diterka”. Aduhai! beberapa saat lalu, kopaja itu tertinggal jauh di belakang karena menanti penumpang dan sekarang berada di samping bus yang kutumpangi?

Januari 9, 2008 at 3:27 pm Tinggalkan komentar

semua gak mau macet!


011.gif 

sebagai pelanggan busway, tentu saja sangat senang kehadiran busway menghindarkan diri dari kemacetan karena busway menggunakan jalur sendiri (yang asalnya mengambil jalur cepat milik kendaraan roda empat lainnya). namun ternyata kehadiran ini tidak disambut gembira bagi pengendara roda empat lainnya, karena jalur mereka menjadi lebih sempit. dan berbagai kesalahan ditimpakan ke muka busway, jangan atasi masalah dengan masalah dong! begitu kata orang-orang bermobil.

gubernur dki yang baru dalam program 100 hari pertamanya untuk mengatasi kemacetan adalah diantaranya dengan membolehkan penggunaan jalur busway yang belum beroperasi untuk dilalui kendaraan. tetapi kebijakan ini gebyah uyah… semua jalur busway yang sudah beroperasi pun (kecuali Koridor I) jadi korban penyalahgunaan kebijakan pak gubernur.

waktu tempuh 20 menit ke kantor pun terpaksa jadi 1 jam lebih gara-gara jalur busway dimakan sama kendaraan lain. sementara polisi mempersilakan mereka masuk ke jalur busway, dishub dki bersusah payah mengalihkan mobil yang masuk untuk keluar dari jalur busway.

ada ketidakadilan polisi, dimana mereka sangat menjaga peraturan lalin di jalur Koridor I(Blok M-Sudirman-Thamrin-Kota), karena jalur itu merupakan jalur percontohan, menilang pengendara motor yang masuk ke jalur mobil, mengusir mobil yang masuk ke jalur busway. tetapi penindakan terhadap pelanggar lalin di jalur koridor lainnya sama sekali “anget-anget tahi ayam”.

semua gak mau macet, tetapi kalau busway yang diperuntukkan sebagai solusi, tolong jangan dipermasalahkan dong!

November 13, 2007 at 3:52 pm 1 komentar

ketabrak bus, salah siapa?


tempo
sindo
kompas
detikcom

Assalamualaikum,

Dua hari ini saya naik bus transjakarta koridor 6 untuk berangkat ke kantor. Untuk seorang buruh yang jam kerjanya 7-16 seperti saya, berangkat lebih pagi menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi kondisi Jakarta yang sulit bebas dari kemacetan. Selama masih mengendarai sepeda motor, saya masih boleh bertoleransi untuk berangkat jam 06.00, namun sejak menumpang kendaraan umum, paling lambat saya harus berangkat jam 05.40 supaya tidak terkena macet dan dapat tiba di kantor tepat waktu. Ternyata sebelum jam 07.00 tiket bus transjakarta yang harus dibayar hanya Rp2000 saja (di atas jam 07.00 harga tiketnya Rp3500).

Saya sadari bus transjakarta sangat bermanfaat bagi saya dan penumpang lainnya, karena tidak perlu menghadapi kemacetan sehingga waktu tempuh lebih cepat daripada menggunakan jalur biasa. Ketertiban menjadi syarat untuk menumpang bus transjakarta, seperti naik dan turun di halte yang ditentukan, menggunakan jembatan penyeberangan atau zebra cross, antri ketika membeli tiket dan masuk bus. Dari dalam bus, saya dapat melihat wajah-wajah pengendara mobil pribadi dan pengendara sepeda motor yang kelelahan dan putus asa menghadapi kemacetan. Terlebih lagi pada penumpang angkot dan bus reguler.

Saya mencoba menelusuri penyebab kemacetan sambil menikmati pemandangan dari dalam bus. Ada beberapa hal yang menyebabkan kemacetan, dan dari dalam bus transjakarta, semuanya jadi kentara sekali.

  1. mobil pribadi: selain ukurannya lebih besar daripada sepeda motor, dapat ditemukan di ruas jalan non 3 in 1 bahwa kebanyakan mobil hanya ditumpangi seorang saja yaitu si pengendara mobil. Sebuah lajur yang lebarnya cukup untuk 2 mobil hanya menampung 2 orang saja, padahal sebuah kendaraan umum dapat menampung lebih dari 5 orang. Sebuah mobil berukuran 2 buah sepeda motor, sehingga sebuah mobil mengambil jatah untuk 2-4 penumpang.
  2. sepeda motor: banyak yang mempersalahkan sepeda motor sebagai biang kemacetan, padahal ukurannya tidak seberapa dibanding mobil pribadi. Namun volume sepeda motor saat ini memang banyak sekali. Slogan anti macet membuat pengendara sepeda motor dapat melakukan manuver untuk membebaskan diri dari kemacetan. tapi manuver tersebut malah bikin kondisi macet tambah parah. (ketika saya berkendaraan sepeda motor, saya juga sering dibuat kesal oleh pengendara motor lainnya)
  3. angkot dan bus reguler: sebagai angkutan umum, mereka patut diacungi jempol karena dapat mengangkut lebih banyak orang sehingga bodi besar pun tidak jadi masalah. Hanya saja perilaku pengemudi dan penumpangnya yang seenaknya menghentikan angkot/bus dimana saja dapat menimbulkan kemacetan. Padahal untuk angkutan umum reguler sudah disediakan halte bus, namun kurang terpakai.
  4. pejalan kaki: mau tidak mau pejalan kaki bisa jadi sumber kemacetan, apalagi jika jumlahnya banyak, hehehe…. Para pejalan kaki adalah pengguna jalan yang biasanya menggunakan trotoar untuk berjalan, tetapi jika trotoar difungsikan sebagai tempat berjualan, maka pejalan kaki terpaksa menggunakan bahu jalan dan membuat macet. Untuk menyeberang jalan sudah disediakan zebra cross atau jembatan penyeberangan, tetapi jarang sekali pejalan kaki yang memanfaatkannya. mereka lebih senang melintas di arus lalu lintas yang memaksa pengendara mobil atau motor menghentikan kendaraan mereka untuk menyilakan mereka menyeberang, dan terjadilah macet. Padahal itu bukan kewajiban pengendara dan bukan hak penyeberang jalan. Menyeberang tidak pada tempat yang disediakan berpotensi menyebabkan kecelakaan.
  5. lampu merah, kecelakaan, pengalihan jalur dan penyempitan jalan karena pekerjaan proyek menjadi sumber lain kemacetan.

Perilaku pengguna jalan menjadi sumber utama kemacetan dan masalah lalu lintas lainnya… itulah kesimpulan kasar yang saya buat selama menumpang bus transjakarta pagi ini.

Jadi, kalau ketabrak bus, salah siapa?

April 17, 2007 at 9:17 am Tinggalkan komentar


Kalender

Oktober 2017
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Kategori

Jumlah kunjungan

  • 2,993 hits

Kicauan

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

RSS Beranda Rumah

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.